Tetap Jadi Guru Ngaji Meski Sudah Duduk di Kursi Dewan

Bagi Muhammad Syihabuddin Romly, anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya,dunia politik bukanlah hal yang asing. Sejak kecil ia sudah mengenal dunia
itu. Saat duduk di bangku sekolah dasar terbiasa ikut kampanye partai politik.
Diajak orangtua dan kakaknya. Pengalamannya itu telah menempa mental Syihabuddin di dunia politik hingga ia beranjak dewasa. Saat kuliah, ia mulai aktif di partai politik.
Menjadi pengurus Partai Persatuan Pembangunan. Pada pemilihan calon anggota legislatif 2014 ia didorong untuk maju. Di usianya yang baru menginjak
27 tahun, Syihabuddin terpilih jadi anggota dewan dari Daerah Pemilihan 4. “Saya akan buka-bukaan, kenapa memutuskan terjun ke dunia politik,” ujarnya dalam satu kesempatan.
Ia mengaku, awalnya tidak punya keinginan untuk masuk dunia politik. Sejak kecil hingga berusia 25 tahun, ia fokus di pondok pesantren. Namun, ketika kuliah di tingkat akhir, ia ditawari kakakanya untuk maju dalam pileg. Ia ragu. Bingung.
Pilihannya kuliah di jurusan ekonomi lantaran ingin jadi pengusaha,sekaligus mengajar. Usai mengajar santri di pesantren, pergi ke sawah, ternak binatang dan lain-lain. Begitu yang ada dalam benaknya waktu itu. Namun, setelah konsultasi dengan gurunya, dan salat istikaharah, hatinya yakin untuk maju dalam pileg. “Yang saya tahu, untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain itu menjadi kiai, mengajar, atau dakwah.
Lantas saya dikasih tahu bahwa ada media lain untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, yaitu terjun ke dunia politik. Menjadi wakil
rakyat di parlemen,” tuturnya.
Kendati kini sudah duduk di kursi dewan, tujuan hidupnya yang terpatri sejak kecil, yaitu menjadi guru ngaji, tetap ia lakoni. Setiap pagi, sebelum
berangkat ke kantor atau menjumpai masyarakat, mengajar dulu. Atasan pakai seragam dinas, bawahan mengenakan sarung. Beres mengaji langsung berangkat kerja.
Sore, seusai menjalankan kewajiban sebagai anggota dewan, kembali mengajar. Malam harinya ia mengisi kuliah tafsir, setiap minggu.
“Saya bukan hanya mengajar di Pesantren Miftahul Huda, tapi juga di Yayasan Ar-Ruzhan. Saya juga menjadi pengurus. Saya memberikan ide dan gagasan yang dirasakan menjadi pembaharu bagi perkembangan dunia kepesantrenan,” bebernya.
Ia menegaskan, amanah yang diberikan masyarakat tidak akan disia-siakan. Sebagai anggota dewan ia akan memperjuangkan hak-hak rakyat. Setiap pekan, mulai Jumat sampai Ahad, menemui masyarakat.
Jumat keliling jadi rutinitasnya. “Usai salat Jumat, kita selalu bermusyawarah dengan masyarakat sekitar. Tanya-tanya sama kiai setempat apa saya yang dibutuhkan, misalnya jalan jelek, wc masjid rusak, atau yang lainnya. Mendengarkan apa saja yang dibutuhkan masyarakat,” bebernya.
Terkait tugasnya sebagai legislator, Syihabuddin mengaku selalu menyampaikan berbagai pandangan terkait apa-apa yang dibahas. Selalu menyumbangkan
ide dan gagasan yang sesuai dengan harapan masyarakat.
Misalnya, dulu berkaitan dengan insentif guru diniyah. “Saya berusaha dan memperjuangkan bagaimana cara agar perda diniyah tersebut berhasil.
Jangan sampai perda ini dianggap diskriminasi atau berbau SARA,” tandasnya.
Kalau dalam pengawasan, terutama saat duduk di Komisi IV, setiap kebijakan pemerintah pihaknya selalu mengontrolnya. Setiap kebijakan pemerintah, apalagi yang berkaitan dengan keagamaan, semisal magrib mengaji, wajar diniyah, ajengan masuk sekolah, ia awasi dengan ketat agar berjalan sebagaimana mestinya.
“Melalui fungsi-fungsi anggota dewan,saya mencoba menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Sejak kecil bercita-cita menjadi seorang
ulama, itu terinspirasi dari sosok kakek saya. Dan ternyata kalau ada media lain yang bisa membuat kita seperti, kenapa tidak kita coba? Bahkan
bukan hanya dunia politik, kalau ada media lain dan itu dapat memberikan manfaat bagi masyarakat banyak, itu akan saya lakukan,” bebernya. ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.