Sri Susilawati S.IP : Selalu Menebar Energi Positif

Kehadiran Sri Susilawati S.IP dalam dunia perpolitikan bukan tanpa sebab. Keinginan kuat
untuk menjadi manusia berkualitas menjadi salah satu yang mendorongnya untuk
mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.
Dia sadar diri, tanpa dorongan keluarga dan kepercayaan dari masyarakat semua ini tidak
akan mampu dicapainya. “Panggilan jiwa. Kemudian background pendidkan saya dari Sospol
ditambah adanya dorongan dari keluarga, suami, orangtua, dan masyarakat. Selain itu, karena
saya memiliki prinsip bahwa manusia berkualitas itu adalah manusia yang bisa memberikan
energi positif bagi manusia lain,” papar Sri Susilawati S.IP, anggota DPRD Fraksi PKB itu.
Karenanya, kata dia, dengan sekuat tenaga terus berupaya untuk memberikan pelayanan yang
terbaik bagi masyarakat. Soalnya, tanggung jawab menjadi anggota legislatif sangat luas dan
besar, terutama dalam memegang amanah masyarakat, menjalankan perintah partai dan
tugas-tugas pokok sebagai anggota DPRD.
“Jangan sampai ada yang merasa dikhianati kepercayaannya. Setiap waktu harus menjadi
pelayan mereka, medengarkan, menampungnya bahkan sampai harus mengabulkan
keinginan-keinginan masyarakat,” kata anggota dewan dapil 5 itu.
Dia menyadari, sebagai mahluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri. Dalam kehidupan
masyarakat dibutuhkan orang lain. Karenanya tindakan menerima dan memberi adalah fitrah
sebagai manusia dan bagian dari hubungan manusia dengan manusia.
“Makanya harus memperhatikan mereka sebagai rekan kerja di lapangan. Untuk merawat
konstituen saya lakukan dengan selalu turun menyapa, banyak mendengar, duduk bareng
berdiskusi dalam memecahkan berbagai macam persoalan yang terjadi di tengah-tengah
mereka,” terang wakil Ketua DPC PKB Kabupaten Tasikmalaya ini.
Semua itu, tidak menjadi sesuatu hal yang mengagetkan, karena yang dilakukan sekarang
sempat dilakukan sewaktu muda. Aktivitas yang dialami dahulu tidak jauh beda dengan
sekarang sebagai anggota legislatif, yaitu menjadi pelayan masyarakat yang harus siap
melayani dengan sepenuh hati.
“Saya sendiri berasal dari lingkungan keluarga besar Polri dan hidup di tengah-tengah
keluarga petani juga, sehingga saya terbiasa hidup di lingkungan yang selalu penuh dengan
nilai-nilai kedisiplinan yang cukup tinggi dengan tetap menjungjung tinggi gerakan tradisi
kultural,” ungkap anggota Komisi IV ini.
Tanpa disadari, lingkungan tersebut mampu mempengaruhinya dalam kehidupan sehari-hari,
mulai dari pikiran hingga tindakan. Sehingga, dalam dirinya tertanam dan mengalir mental

yang cukup kuat. Terus mendorong dan memacunya untuk menjadi seseorang yang bisa
berdiri tegak dan tidak mudah menyerah.
“Dari delapan keterwakilan perempuan di DPRD, yang ayah dan suaminya seorang insan
Bhayangkara adalah saya sendiri. Saya bukan politisi murni, makanya tidak
punya background organisasi yang melahirkan politisi. Walaupun begitu, tidak menyurutkan
niat dan amanat yang mengharuskan saya terjun ke politik,” terang Anggota Badan
Kehormatan ini.
Kalau berbicara nilai, lanjut dia, menjadi anggota dewan sangat tidak ternilai harganya.
Pasalnya, semua itu membicarakan tentang pengabdian yang harus dijalankan dengan penuh
tanggungjawab dan keikhlasan.
“Jadi anggota DPRD adalah anugerah sehingga dengan fasilitas dan kebijakannya dapat
membantu masyarakat sehingga masyarakat terfasilitasi dengan baik sesuai kondisi dan
keinginannya,” terang suami Mulyadi, S.H ini.
Sebagai wakil rakyat, dalam menampung aspirasi masyarakat jangan hanya melakukan
komunikasi bersifat vertikal saja. Tetapi membangun komunikasi secara horizontal dengan
intens dan berkelanjtan. Dengan begitu, seorang anggota legislatif akan mampu mengetahui
secara mendasar apa saja yang menjadi keluhan masyarakat. Dan semua itu bisa dijadikan
bahan referensi dalam mengambil kebijakan dan pengalokasi anggaran.
“Agar tepat sasaran. Semua itu dilakukan untuk menuju pergeseran perubahan kearah yang
lebih baik. Baik dalam infrastruktur maupun revolusi mental dengan semangat bergotong-
royong yang semakin solid demi terwujudnya kesejahteraan lahir, kesejahteraan batin, dan
rasa keadilan bagi masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini saya menyebutnya kerja kita prestasi
bangsa,” kata orangtua Bilqis Agnia Al Zahra itu.
Perempuan berusia 32 tahun ini, mengungkapkan, dipilihnya Partai Kebangkitan Bangsa
(PKB) karena partai tersebut lahir dari organisasi besar Islam, yaitu Nahdlatul Ulama (NU).
Secara tidak langsung partai berlambang bola dunia itu diisi dan didukung oleh para kiai,
ulama yang memiliki tekad kuat dalam melayani dan mengayomi umatnya.
“Akan memperjuangkan hak – hak kaum perempuan, meningkatkan kualitas pendidikan,
kualitas kesehatan bagi kaum minoritas serta meningkatkan infrastruktur pedesaan untuk
mewujudkan cita-cita adil, makmur dan tercapainya kesejahteraan masyarakat baik dalam
peningkatan SDM, ekonomi maupun sosial. Sesuai dengan apa yang dicita-citakan para alim-
ulama,” ungkapnya.
Jangan sampai, semua aktivitas tersebut melupakan kewajiban sebagai ibu rumah tangga.
Menjadi isteri dan ibu yang baik dari anak-anak. Berusaha untuk menyempatkan waktu untuk

keluarga. Karenanya, harus pandai dalam membagi waktu antara pekerjaan dan kewajiban
sebagai ibu rumah tangga.
“Tentunya harus memberikan yang terbaik untuk keluarga, anak dan suami karena keluarga
adalah segala-galanya. Minta doanya juga, pada tahun di Pemilu 2019 saya ikut kembali
berkompetisi bersama para caleg lainnya yang ada di wilayah dapil 5, dengan jargon saya
‘Gerakan Perempuan Bangkit’. InsyaAllah,” tandasnya. ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.