Museum Keliling “Datangkan” Prasasti Geger Hanjuang

SINGAPARNA—Prasasti Geger Hanjuang, sebongkah batu pipih dengan ukuran panjang 85 centimeter, lebar 62 centimeter, tinggi 28 centimeter. Batu tersebut menjadi istimewa karena mengandung salah satu bukti otentik penanda atas keberadaan Kerajaan Galunggung. Seorang peneliti asal Belanda, K. F. Holle, menemukan prasasti tersebut pada 1877. Letaknya di Kampung Geger Hanjuang, Desa Linggamulya, Kecamatan Leuwisari. Daerah ini sendiri masih salah satu kaki bukit Gunung Galunggung, sebelah selatan.

PRASASTI Geger Hanjuang ­bertuliskan (pahatan) huruf Sunda kuna. Kalimatnya singkat. “Tra ba i guna apuy na sta gomati sakakala ru mata k disusu(k) ku batari hyang pun.” Arti dari kalimat tersebut, “Pada tahun 1033 (Saka) (ibukota) Ruma tak diperkuat (pertahanannya) oleh Batari Hyang.”

Masyarakat Geger Hanjuang dewasa ini begitu akrab dengan sebongkah batu di kampungnya. Tetapi itu bukan prasasti Geger Hanjuang yang asli, melainkan sebuah replika. Sementara prasasti yang asli terpelihara dengan baik di Museum Nasional Jakarta, dengan nomor koleksi D-26.

Pada peringatan Hari Jadi ke-387 Kabupaten Tasikmalaya, pihak panitia berhasil “membawa pulang” Prasasti Geger Hanjuang yang asli. Meskipun tidak sampai ke tempat aslinya, melainkan untuk melengkapi koleksi museum keliling yang bertempat di Kantor Setda Kabupaten Tasikmalaya; Jl. Bojongkoneng, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Museum keliling juga melengkapi koleksinya dengan Prasasti Kawali, Prasasti Kota Kapur, dan Patung Buddha Dipangkara.

Tidak dimungkiri, keberadaan Prasasti Geger Hanjuang di museum keliling menambah daya tarik publik untuk menghadiri rangkaian acara Festival Tasik Motekar 2019. Sebab museum keliling sendiri merupakan salah satu dari serangkaian acara festival. Masyarakat merasa penasaran dan hendak melihat prasasti yang asli dari jarak dekat.

 

“Selama ini, kan, disimpan di Museum Jakarta, jadi saya bahagia sekali sakaligus bangga bisa melihat langsung wujud aslinya, ternyata beda jauh dari Prasasti Geger Hanjuang yang ada di Leuwisari sekarang,” papar salah satu pengunjung Usup Saepudin kepada ayotasik.com, Minggu (21/7/2019).

Yusup mengharapkan, benda-benda bersejarah yang berasal dari Tasikmalaya disimpan di Tasikmalaya. Artinya, pemerintah harus mempunyai museum khusus menyimpan berbagai benda sejarah.

 

“Kalau bagusnya di kita itu ada museum, jadi benda bersejarah bisa disimpan di sini. Jadi masyarakat lebih mudah kalau ingin mengunjungi dan mengetahui sejarah dari benda-benda peninggalan, ” papar Usup.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.