Jumling Cara syihabuddin tampung aspirasi masyarakat

Legislator DPRD Kabupaten Tasikmalaya dari Partai Persatuan Pembangunan, Muhammad Syihabuddin Romly, punya cara tersendiri dalam menampung aspirasi masyarakat. Ia bisa melakukan Jumling alias Jumat keliling. Jadi khatib.
Usai salat Jumat, kita selalu bermusyawarah dengan masyarakat sekitar. Tanya-tanya sama kiai setempat apa saya yang dibutuhkan, misalnya jalan jelek, wc masjid rusak, atau yang lainnya.
Mendengarkan apa saja yang dibutuhkan masyarakat,” bebernya.
Lahir dan besar di lingkungan pesantren, bukan hal asing baginya ceramah di atas mimbar. Jauh sebelum terjun ke dunia politik, ia biasa mengajar
di pesantren. Pengalamannya itu diterapkan saat mendapat amanah dari masyarakat.
Kendati kini sudah duduk di kursi dewan, tujuan hidupnya yang terpatri sejak kecil, yaitu menjadi guru ngaji, tetap ia lakoni. Setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor atau menjumpai masyarakat, mengajar dulu. Atasan pakai seragam dinas, bawahan mengenakan sarung. Beres mengaji
langsung berangkat kerja.
Sore, seusai menjalankan kewajiban sebagai anggota dewan, kembali mengajar. Malam harinya ia mengisi kuliah tafsir, setiap minggu. “Saya bukan hanya mengajar di Pesantren Miftahul Huda, tapi juga di Yayasan Ar-Ruzhan. Saya juga menjadi pengurus. Saya memberikan ide dan gagasan yang irasakan menjadi pembaharu bagi perkembangan dunia kepesantrenan,” bebernya.
Bukan hanya hari Jumat, Sabtu dan Ahad pun terjun ke masyarakat. Di tiga hari itu ia kerap berkeliling ke desa-desa menampung aspirasi masyarakat. Setiap pagi, usai mengajar di pesantren, ia mengunjungi beberapa desa. Mengontrol jalan lingkungan yang sudah rusak. “Sehingga nanti,ketika anggaran mau direalisasikan, tinggal menyalurkan saja,” tandasya.
Menurutnya, hubungan anggota dewan dengan masyarakat layaknya komunikasi dalam keluarga. Sama seperti suami, istri, dan anak. Harus harmonis. Jika tidak, alih-alih mendapatkan kebahagiaan dalam keluarga, yang ada malah amarah. Setiap hari dilanda kegaduhan. Cekcok. Pertentangan. “Kita benar-benar harus memperhatikan kebutuhan masyarakat. Kita sama rakyat itu layaknya suami dan istri. Harus selalu menjaga komunikasi dengan masyarakat, supaya bisa harmonis. Selalu menjaga kedekatan kita dengan masyarakat,” tandasnya. Untuk itu, jurus jemput bola tepat diterapkan dalam menjalin hubungan anggota dewan dengan masyarakat. Jumling salah satunya. Begitu yang dilakukan Syihabuddin. Rutin bertatap muka dengan masyarakat. Bertanya segala hal yang terkait dengan kehidupan mereka.
“Sangat penting sekali berkomunikasi dengan masyarakat. Dalam seminggu, saya tiga kali mengunjungi masyarakat. Kegiatan-kegiatan di desa saya selalu hadir. Menjaga kedekatan dengan masyarakat dilakukan untuk menjalankan fungsi sebagai anggota dewan,” paparnya.
Komunikasi itu dibangun salah satunya untuk menyerap apa saja sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat, sehingga ketika ada anggaran tidak
ujug-ujug diberikan kepada masyarakat tanpa tahu apa yang dibutuhkan.
Selain itu, ketika ada pembangunan desa, misalnya berkaitan dengan peningkatan akses jalan, ia biasa langsung terjun membantu. “Malahan
saya selalu minta kepada tokoh masyarakat agar waktu kegiatan di desa disesuaikan dengan jadwal kegiatan saya agar bisa turut hadir,” imbuhnya.
Cara lain yang ia lakukan dalam menjalin hubungan dengan masyarakat adalah rutin mengadakan turnamen olahraga. Itu sekaligus upaya pembinaan generasi muda. Memberi wadah positif agar mereka punya tempat menyalurkan bakat. Turnamen itu rutin digelar setiap tahun di desa-desa. ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.