Dana Desa Masih Sekadar Bangunan Infrastruktur

Adanya keberpihakan pemerintah pusat terhadap pemerintahaan
desa melalui Dana Desa masih belum mampu diterjemahkan secara
menyeluruh. Pasalnya, tidak sedikit yang memahami bahwa Dana
Desa hanya untuk membangun infrastruktur, tanpa memperhitungkan
pemberdayaan.
“Sayang, penerapan atau penggunaan Dana Desa di Kabupaten Tasikmalaya
masih dipahami untuk pembangunan yang bersifat infrastruktur saja,” kata
Demi Hamzah Rahadian, anggota komisi III DPRD Kabupaten Tasikmalaya.
Menurutnya, saat ini terjadi pergeseran pemahaman terkait penerapanan Dana
Desa yang tidak sesuai antara aturan yang dirancang Kementerian Desa dan
Pembangunan Daerah Tertinggal dengan penerapannya di lapangan.
“Contohnya seperti kebanyakan kepala desa memahami bahwa Dana Desa itu
untuk pembangunan infrastruktur saja. Saat ini sama sekali belum menyentuh
pemberdayaan,” ungkap ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten
Tasikmalaya itu.

Kekeliruan itu, kata dia, terjadi juga di lingkungan
pemerintah daerah, sehingga Perda terkait Dana Desa isinya
hanya berkaitan dengan penekanan supaya pemerintahan
desa menggunakan anggarannnya untuk pembangunan
infrastruktur. “Padahal di desa, pembangunan infrastruktur
itu masih tanggungjawab pemerintah daerah,” ujarnya.
Selain itu, lanjut dia, pemahaman keliru tersebut terjadi
juga ketika memahami Dana Desa, sebagai alokasi dana
yang hanya bersumber dari pemerintah pusat saja. Padahal,
darimanapun datangnya anggaran, asalkan semua itu
dikelola desa maka disebut dengan Dana Desa.
“Mau itu yang bersumber dari bantuan provinsi, bantuan
keuangan, ADD, ya itulah Dana Desa. Bukan yang hanya
dari pemerintah pusat saja,” pungkasnya.
Dengan begitu, ketika Dana Desa tidak mampu
dipahami secara menyeluruh, nanti akan berdampak pada
ketidakseimbangan pembangunan fisik dan rohani. Disatu
sisi pembangunan secara fisik bagus, namun secara spiritual
jelek.
Fraksi PDI Perjuangan, lanjut Demi, merasa khawatir
jika kekeliruan memahami filosofi soal Dana Desa ini
bisa berakibat fatal pada keberlangsungan pembangunan
mental dan karakter masyarakat desa. Padahal penggunaan
Dana Desa besifat luas, salah staunya bisa digunakan untuk
pemberdayaan di bidang kepemudaan, keagamaan, sosial,
ekonomi dan berbagai bentuk pemberdayaan lainnya di
tingkat desa.
“Kita mungkin akan maju dari segi infrastruktur. Tapi rapuh
dari segi mental. Soalnya pemberdayaan tidak tergaeap.
Maka kami merasa perlu dan wajib untuk meluruskan
kekeliruan ini,” tandasnya. ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.