Cucu Mursyid Tarekat Jadi Birokrat

Satu di antara cucu mendiang K. H. Shohibul Wafa Tajul Arifin, Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) yang berpusat di Pondok Pesantren Suryalaya, ialah Drs. Iing Farid Khozin, M.Si. Kini menduduki posisi Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tasikmalaya, menggantikan Hj. Nia Kurniati SH,M,Si. Pelantikannya berlangsung pada Selasa 14 Agustus 2018 lalu.

PERSISNYA, Iing adalah putra K. H. Zaenal Abidin Anwar yang keempat, dari delapan bersaudara. Sepeninggal K. H. Shohibul Wafa Tajul Arifin, yang lebih populer dengan nama Abah Anom, K. H. Zaenal Abidin Anwar bertindak sebagai “Pengemban Amanah” TQN.

Sebagai keturunan kiai, pria kelahiran Pekalongan, 4 Maret 1966, itu berkelakar; bahwa aneh juga ia justru berkarier sebagai aparatur sipil negara (ASN). Pernah menduduki banyak jabatan yang berbeda-beda pula, sesuai dengan penugasan.

“Bahkan, kalau dikejar dengan latar belakang pendidikan, dipikir-pikir pekerjaan saya ini nggak ada nyambung-nyambungnya. Saya ini idealnya jadi orang Departemen Sosial, bukan jadi pegawai Pemda,” ujar suami Rizqi Kustanti tersebut sambil terkekeh.

Sewaktu remaja, Iing memang pernah bercita-cita menjadi camat. Tetapi, kenyataan bahwa dirinya tidak lulus test masuk Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN)—sekarang Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)—ia sempat menyangka kalau cita-citanya itu tidak akan pernah tergapai.

Masuklah Iing ke Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS), Bandung. Kesanggupan ini tidak terlepas dari dorongan Abah Anom yang dengan tegas berkata, “Sakola mah ka mana wé! Sakola mah ka mana wé! Sakola mah ka mana wé! Nu penting meunang élmu,” kenang Iing. Lulus tahun 1993. Satu tahun kemudian (1994), ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS)—sekarang ASN—oleh Departemen Sosial (Depsos), bertugas di Kantor Wilayah (Kanwil) Jawa Barat. ­

Tahun 2001, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membubarkan Depsos. ASN yang bertugas di dalamnya menentukan nasib masing-masing. Menurut Iing, di antara mereka ada yang pindah menjadi ASN di kepolisian, ada juga yang ke peradilan dengan posisi penjaga LP.

“Saya memilih diam saja. Pertimbangan saya, kalau ikut yang lain, di sana nggak ada jenjang karier bagi saya. Bakal mentok saja segitu. Ah, yang penting gajih tetap cair. Saya kan tidak dipecat dari ASN, kerja mah ke mana saja,” kenangnya lebih jauh.

Kemudian turunlah intruksi, untuk eks pegawai Depsos dipersilahkan masuk ke Pemda masing-masing. Iing mengikuti jalur tersebut, dan lolos. Setelah menjalani sekian panjang karier, Bupati Tatang Farhanul Hakim mengangkatnya sebagai Camat Sukaresik.

Enam tahun kemudian, Iing pindah tugas menjadi Camat Pagerageung, selama sembilan bulan. Kemudian menjadi Sekretaris Dinas Sosial; Kabag Humas selama 6 tahun; Staf Ahli Bupati merangkap Plt Dinas Pendapatan; dan sejak Agustus 2018 menjabat Sekretaris DPRD Kabupaten Tasikmalaya.

“Waktu jadi camat, saya berpikir, akhirnya kesampaian juga cita-cita saya itu. Saya jadi kembali ingat perkataan Abah (Anom, red). Kata Abah, ‘Sakola mah ka mana wé! Ngan lamun keukeuh hayang jadi camat, yeuh amalkeun bacaan ieu’. Saya dikasih perintah sebuah amalan, sebuah bacaan saja. Ternyata benar, orang bersih itu ucapannya bisa jadi kenyataan,” kenang ayah bagi Ahmah Saalik Hudan Alfaridz dan Auli Robiah Aladawiyah Faridz.

Iing mengakui betapa pengaruh sosok Abah Anom begitu membekas dalam pribadinya. Baik dari pola amalan, ucapan, maupun perbuatan. Tentang sebuah amalan, sepengakuan Iing, sejak SMP (1980) Abah Anom sudah menempanya dengan amalan—disebut dengan istilah—“Kannat Nabi”: yang harus dijalani selama 40 hari, di mana setiap malamnya harus melaksanakan mandi taubat. Di samping itu ada ketentuan-ketentuan lain yang mesti dipatuhi. Antara lain, harus senantiasa mendirikan salat tahajud, hajat, witir, serta bacaan-bacaan lain.

Dari Abah Anom juga Iing belajar kunci kesuksesan berkarier, yakni dengan cara “kerja baik, kerja benar, kerja taat, dan kerja teratur”. Abah Anom nuga memberi contoh tentang bertutur jujur dan berperilaku disiplin. Menurutnya, kedisiplinan merupakan syariat yang mesti dikerjakan, bahwa ASN harus bekerja sesuai Tupoksi.

“Bekerja itu bukan karena ingin dinilai oleh pimpinan, karena itu berarti terlepas dari nilai iklas. Kerjakan saja sesuai Tupoksi. Karena SK itu adalah amanah yang sewaktu-waktu akan dicabut kembali. Begitu juga saat saya bertugas di sini (Sekwan, red), intinya saya ingin kantor sekretariat dewan ini aman terlindungi dalam aturan; kita laksanakan saja tata tertib sesuai dengan keharusannya,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.